CENG BENG / SEMBAHYANG REBUTAN
Cerita mengenai awal mula Sembahyang Rebutan atau Festival Hantu ini
ada banyak versi. Umumnya yang kita ketahui adalah versi yang berasal
dari pengaruh Budhisme. Namun, terdapat versi Tao juga. Versinya adalah
sebagai berikut : Pada tanggal 15 bulan 7 imlek biasanya dipakai oleh
pemerintahan kerajaan pada zaman dahulu untuk melaksanakan eksekusi bagi
semua tahanan hukuman mati.
Acara kesekusi ini berlaku serentak di seluruh negeri. Jadi, pada saat itu (tanggal
15 bulan 7 imlek) tersebut dirasakan bermacam-macam oleh seluruh
masyarakat. Namun yang paling terasa adalah bagi keluarga-keluarga
terpidana, itu adalah hari yang sangat menyedihkan. Sementara bagi
banyak masyarakat, hari itu dirasakan sebagai hari yang cukup mencekam;
dimana banyak keluarga yang menangisi anggota keluarganya yang akan di
eksekusi mati.
Mereka biasa
“mengantar” arwah kerabatnya tersebut dengan memasang altar, memberikan
sesaji, dan sebagainya. Karena hari eksekusi tersebut berlaku serentak
diseluruh negeri, suasananya menjadi memang sangat mencekam dan tentu
penuh dengan suasana mistis. Arwah-arwah yang serentak tercabut
tersebut, berubah menjadi arwah gentayangan yang makin menimbulkan
suasana yang mengerikan.
Sebagian keluarga lainnya yang tidak
mengalami adanya anggota keluarga yang di eksekusi, karena rasa ngeri
dan takut, jadi ikut-ikutan memasang sesaji dengan harapan agar
arwah-arwah gentayangan tersebut tidak mengganggu anggota keluarga
mereka. Akhirnya, lama kelamaan Chi Gwee Cap Go tersebut menjadi tradisi
untuk sembahyang bagi para arwah gentayangan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar